Hampir tidak ada karyawan yang bangun pagi lalu tiba-tiba memutuskan, “Hari ini aku resign.”
Keputusan itu biasanya lahir dari akumulasi hari-hari kecil yang melelahkan, yang terlihat sepele bagi perusahaan, tapi berat bagi yang menjalaninya.
Awalnya hanya rasa capek.
Capek menjelaskan hal yang sama berulang kali, capek menunggu janji yang tidak pernah jelas arahnya, capek berusaha profesional di lingkungan yang tidak selalu adil.
Di tahap ini, karyawan masih mencoba bertahan. Mereka masih berpikir, “Mungkin nanti membaik.”
Lalu pelan-pelan, ekspektasi mulai diturunkan.
Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak ingin kecewa lagi.
Usaha ekstra dikurangi, ide disimpan sendiri, dan pekerjaan diselesaikan sekadar sesuai kewajiban.

Dari luar, semuanya tampak normal.
Namun di dalam kepala karyawan, ada dialog yang terus berulang:
“Aku sebenarnya berkembang nggak sih di sini?”
“Kalau aku pergi, ada yang peduli?”

Saat pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah mendapat jawaban, karyawan mulai mempersiapkan diri. Bukan langsung melamar ke mana-mana, tapi memantapkan hati. Menerima bahwa mungkin, tempat ini memang bukan untuk jangka panjang.
Ironisnya, di fase ini karyawan justru terlihat paling “aman”.
Tidak banyak drama.
Tidak banyak konflik.
Tidak banyak keluhan.

Sampai suatu hari, surat resign masuk ke meja HR.

Dan semua orang bertanya, “Kok tiba-tiba?”

Padahal, bagi karyawan itu, tidak ada yang tiba-tiba.
Keputusan tersebut hanyalah penutup dari proses panjang yang tidak pernah benar-benar didengar.
Dalam dunia HR, memahami manusia sering kali lebih penting daripada membaca laporan.
Karena sebelum karyawan pergi secara fisik,
mereka biasanya sudah pergi secara emosional jauh lebih dulu.

Posted in

Leave a comment